Merengkuh Keagungan Ijen

Di pekan ketiga bulan Desember ini, aku sudah resah saja rasanya menjelang libur akhir tahun. Antara terlalu lelah dengan kesibukan yang seakan tak pernah ada habisnya, dan jatah cuti yang masih tersisa 8 hari. Ya, D E L A P A N! Kok bisa, total cuti kan cuma 12 hari setahun, kenapa sebanyak itu yang belum terpakai? Setelah dirunut ke belakang, sepanjang tahun ini memang aku tak banyak melakukan perjalanan murni liburan kecuali saat mengikuti open trip ke Dieng Culture Festival yang cuma memakan satu jatah cutiku. Ke Jogja, Bali, dan Lombok adalah perjalanan akademik yang tidak memotong cuti tahunan, tapi menggunakan surat dinas luar kota. Mulai dari presentasi hasil penelitian di forum konferensi ilmiah berskala internasional, hingga keperluan mengumpulkan data penelitian yang meraih hibah nasional dari Kemenristek Dikti.

Pada hari-hari minggu kedua terakhir di tahun 2019 itulah aku mulai mencari-cari rekomendasi destinasi liburan yang bisa kujangkau secara budget, waktu, dan energi. Mulai dari browsing via Instagram, hingga menghubungi nomor what’s app yang tertera di akun IG mereka. Awalnya aku bertanya soal perjalanan ke Ranu Kumbolo ke beberapa nomor WA, karena memang Rakum adalah salah satu whist list-ku sejak lama. Namun ternyata mereka menjawab senada, bahwa daya tarik wisata tersebut kini sedang dalam masa reboisasi, jadi ditutup untuk umum, kemungkinan baru akan dibuka lagi April tahun depan. Lalu kulupakanlah rencana liburan sebelum mudik akhir tahun. Mungkin aku akan menghabiskan libur natal dan tahun baru di kampung halaman saja.

Tak disangka, tetiba salah satu nomor WA open trip Surabaya yang kemarin-kemarin sempat kuhubungi, mengirim pesan: “kalau ke Bromo pernah Kak?” | “pernah” jawabku | “Ijen pernah?” | “belum” sambil terpikir bahwa dulu aku sempat ingin pergi ke Ijen | “Mau?” | Setelah berdikusi soal tanggal dan biaya, kemudian mencocokkannya dengan jadwal keberangkatan moda transportasi umum yang akan kupakai, kuputuskanlah merambah Ijen. Jadi bisa dibilang perjalanan soloku ke Ijen ini terlaksana akibat ketidaksengajaan.

9F1DD7FA-7194-4385-98A8-2D062BCEAAFA

Aku memesan tiket kereta bisnis tujuan Stasiun Surabaya Pasar Turi sesuai titik penjemputan pihak tur, dengan keberangkatan Senin, 23 Desember 2019 jam 15.45 WIB. Sepekan sebelum berangkat, kesibukan memuncak, mulai dari mengoreksi berkas Ujian Akhir Semester, sampai meng-input nilai mata kuliah yang diujikan tersebut untuk empat kelas yang masing-masing kelasnya itu berjumlah sekitar 45 mahasiswa/i, belum lagi empat jenis tugas lain yang juga harus di-submit. Itu baru satu perkara. Masalah lainnya adalah ada dua jenis proposal penelitian hibah eksternal yang kutulis dengan tenggat waktu 22 Desember 2019. Alhasil, menuju libur panjang rasanya aku sampai jungkir balik demi beresnya semua urusan pekerjaan. Tapi bagus juga pikirku, terlebih sudah dua minggu absen cardio dan body combat padahal harusnya rajin olah raga biar tubuh terasa ringan diajak muncak Ijen. Jangankan punya waktu buat latihan, yang ada malah beberapa malam terakhir aku pulang larut terus supaya bisa tenteram berlibur.

Libur Tutup Tahun 2019

Di hari H keberangkatan, aku sempatkan diri ngampus terlebih dulu untuk merapikan banyak hal sebelum kutinggal pergi cukup lama. Mengambil beberapa data yang bisa kuolah selama liburan di kampung halaman, serta memastikan semuanya sudah terorganisir dengan baik. Saking fokusnya mengurus ini itu, sampai-sampai kutolak ajakan kolega untuk makan siang di luar dan memilih makan sendirian di meja kerja. Sekitar jam 14.30 WIB aku mulai memesan ojek online. Setelah berpamitan dengan beberapa orang yang kujumpai di kantor, melajulah aku bersama mamang ojol ke Stasiun Gambir. Keputusanku mengambil ojek motor tepat ternyata, karena di perempatan Senen macetnya bukan main, ada proyek pembangunan under pass baru. Tiba di Stasiun Gambir tak langsung menuju mesin pencetak tiket, masih banyak waktu pikirku. Suasana stasiun cukup ramai, tapi tidak seramai menjelang libur lebaran. Jadilah aku melipir ke Es Teler 77 kesayangan untuk sejenak melepas dahaga yang ditimbulkan oleh panasnya jalanan. Kunikmati betul setiap bulir esnya, manis! Susu kental putih yang kusuka, alpukat yang lembut di mulut, potongan nangka yang memanjakan gigi, dan sayatan kelapa muda di lidah.

Sekitar 20 menit sebelum keretaku berangkat, barulah aku beranjak hendak mencetak tiket. Tidak antri, karena memang mesinnya cukup banyak. Kuketikkan kode booking, tidak muncul. Kucoba lagi, tetap gagal. Sampai-sampai ada seorang Bapak-bapak petugas menghampiri dan mencoba membantu, tetap tak bisa. Lalu dia menyarankan aku menuju ke desk customer service yang terletak beberapa langkah saja jauhnya. Kuserahkan kertas booking tiketku sambil mulai merasa ada yang salah, karena tidak pernah begini sebelumnya. Setelah kode booking-ku di-input oleh sang CS, yang juga tidak bisa, kemudian dicermatinya kode tersebut. Lalu dengan muka pucat dia berkata: “Mbak, ini kodenya PSE, dari Pasar Senen” DANGGG!!!

Kulangsung semaput, lari terbirit-birit menuju pintu keluar Stasiun Gambir sambil merogoh iPhone dan segera memesan ojol ke stasiun Pasar Senen. Cuma 15 menit tersisa! Ya salam, di aplikasi tertera 9 menit pula si supir ojol sampai ke titikku. Sambil sibuk chat si driver, mau nangis rasanya! Tapi ternyata Abang ojol sudah di depanku sambil melambaikan tangan: “Kak Nania…” Duh, bisa-bisanya durasi tunggu aplikasi nggak sesuai fakta, kulangsung lompat ke jok belakang sambil mengumpat: “kita cuma punya 10 menit Bang”. Si Abang langsung tancap gas dengan gesture tubuh yang santai bagai di pantai, sementara aku tegang bukan main, sambil tak berhenti memaki diri dalam hati. Sungguh tak lucu kalau sampai aku batal ke Ijen cuma gegara kecerobohanku sendiri. Tidak teliti melihat stasiun keberangkatan hanya bermodal anggapan: “kereta bisnis pasti berangkat dari Gambir. Senen khusus ekonomi”.

Setiba di Stasiun Pasar Senen, kulangsung lari morat marit menuju mesin pencetak tiket. Sembari ngos-ngosan di depan mesin, kuketikkan kode booking dengan terburu-buru. TIDAK BISA! Apalagi ini?! Kuketik ulang. KODE HARUS 7 DIGIT. Kuhitung jumlah angka dan huruf di kodeku. Ya ampun, kan memang sudah benar total 7 digit! Lalu seorang petugas sigap menghampiri “Angka 7-nya rusak Mbak, coba lagi pelan-pelan” YA KALI ANGKA 7 PAKE RUSAK SEGALA!!! “tenang Mbak, masih 6 menit lagi keretanya nunggu” Lalu kucoba lagi, BISAAA!!! Suara Mbak-mbak petugas kereta nan merdu sudah meraung-raung menyebut-nyebut keretaku akan berangkat sesaat lagi. Penderitaan belum berakhir, aku masih salah masuk pintu nama kereta yang akan berangkat! Untungnya jarak antara pintu keberangkatan keretaku hanya di sebelah pintu keberangkatan kereta yang keliru kumasuki! HAHAHA masih beruntung saja.

Akhirnya, kubisa duduk tenang di kursi pilihanku sendiri. Dalam perjalanan kereta selama kurang lebih 12 jam, aku lelap tertidur, makan dengan tenang sambil menikmati riak hujan yang menerpa kaca jendela keretaku, membaca dua buku yang sengaja kubekal dari rumah, dan menarik beberapa pelajaran, bahwa Stasiun Pasar Senen juga melayani kereta bisnis, bahkan eksekutif, tidak hanya ekonomi. Selain itu, segala keteledoranku sepertinya merupakan sinyal, bahwa aku memang butuh liburan ;p

Sampai di Stasiun Surabaya Pasar Turi tepat jam 02.56 WIB. Aku langsung jalan menuju Hotel Intan yang berjarak 500 meter dari stasiun. Hotel ini kutemukan di aplikasi Traveloka, aku memesan dengan skema late check in dan late check out. Lumayan bisa merebahkan badan setelah seharian ke sana ke mari dan separuh hari duduk tegak di kursi kereta bisnis. Sekitar delapan jam aku tidur pulas dan bangun di tengah hari karena panggilan alam. Kemudian aku beranjak ke luar hotel mencari makan siang. Ada beberapa tenda makan yang buka berderet di depan kios-kios Pasar Turi. Banyak macamnya, mulai dari masakan Padang sampai pecel lele. Aku memesan pecel lele beserta sambal dan lalapannya, tahu + tempe penyet, terong goreng, minum es teh manis. Setelah selesai makan aku bertanya kepada Ibu penjualnya: “Ibu ngomong bahasa apa, Bu?” Si Ibu tertawa bersama suami dan anaknya, “bahasa Madura Mbak, memangnya Mbak dari mana?” | “saya dari Jakarta, biasanya orang Madura di Jakarta jualan sate, di sini jualnya pecel lele ya ternyata” mereka tertawa lagi “di Surabaya ini orang Madura jual semuanya Mbak, ada pecel lele, sate, rujak cingur, banyak macamnya, kalau di Bandung lain lagi, mereka jualnya tahu kupat” | “Kupat tahu, Bu” | “oh iya ya, hahaha…”

Merengkuh Ijen
Jam 16.30 WIB aku sudah bergeser ke Stasiun Surabaya Pasar Turi lagi untuk dijemput oleh pihak tur. Sekitar 15 menit kemudian, tour leader kami menelpon via WA, lalu bertemulah aku dengan mobil elf yang akan mengantarku dan empat orang anak muda lain yang sudah duduk di dalamnya. Posisi dudukku cukup enak, dekat pintu dan bisa selonjor kaki. Sebelum menuju Banyuwangi, kami masih harus menjemput 10 orang peserta tur lagi di satu titik penjemputan yang sudah ditentukan. Perjalanan memakan waktu sekitar enam jam. Tengah malam 24 Desember 2019 kami tiba di kaki Gunung Ijen. Mengapa namanya Ijen? Tanyaku terjawab oleh tour leader kami: “Ijen itu artinya satu, Mbak” | “Kenapa satu?” | “karena sepulau Jawa cuma ada satu yang kayak gini”.

Rintik gerimis menyambut kami di kaki Ijen. Wah, bagaimana kalau hujan ya? Aku sudah membayangkan muncak gunung sambil mengenakan jas hujan, seru juga kayaknya. Tapi ternyata khayalanku tidak terbukti. Jika hujan turun, jalur pendakian malah ditutup sama sekali! Tidak ada yang boleh naik karena medannya berpasir, juga tidak ada tempat berteduh. Waduh! bagaimana pula ini, sudah jauh-jauh datang dari ibukota kalau sampai batal muncak gegara hujan, sedihnya.

Kami bersiap di sebuah warung yang juga menyediakan toilet umum. Di depannya sudah tersedia api untuk sedikit menghangatkan badan. Barang bawaan disimpan di mobil elf yang terparkir. Untuk muncak, aku cukup membawa senter, masker, kamera, air minum, permen, dan jaket tambahan dalam ransel. Pak Supir tidak ikut muncak, dia akan menunggu di mobil sambil tidur. Padahal katanya dia belum pernah tahu Kawah Ijen itu seperti apa meski sudah berkali-kali datang ke sini untuk mengantar orang. Aku heran dengannya, apa dia tidak penasaran. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap pekerjaan. Selama di perjalanan pulang, kami semua tertidur, sementara supir harus tetap siaga dan sigap mengendarai mobil dengan baik. Luar biasa dedikasi Pak Supir kami ini.

Tak lama, rintik gerimis yang tak seberapa itu pun reda. Udara jadi tak terlalu dingin menusuk. Sesaat sebelum mulai menanjak, kami berkumpul dan tour leader menyampaikan bahwa kita akan menempuh jarak sekitar 3,1 km terus naik. Lalu sesampainya di puncak, akan ada 800 meter lagi ke bawah menuju kawahnya. Dia berpesan untuk berhati-hati, tidak memaksakan diri jika tak kuat, sering istirahat berhenti juga tak mengapa, dia akan ada di barisan rombongan kami yang paling terakhir: “tujuan kita ke sini untuk kembali pulang dengan selamat, bukan sekadar melihat blue fire” bijaksana sekali Anda, Mas Tour Leader!

Pada beberapa langkah mulai menanjak, kami ber-15 masih bersama. Lalu sekitar 10 menit berjalan sudah mulai terpisah, aku pun tak tahu apa aku yang terlalu lamban atau terlalu cepat. Banyak juga rombongan lain yang ikut naik, jadi tidak bisa dengan jelas untuk terus bersama-sama rombongan awal. Tua, muda, dewasa, anak kecil, semua kalangan usia berlomba menaklukkan Ijen. Saat menanjak, aku malah kegerahan, jaket gunungku kuikatkan di pinggang. Jadi jangankan sempat memakai jaket tambahan, jaket yang melekat di badan pun kulepas.

Di sepanjang jalan banyak gerobak pengangkut manusia ditawarkan kepada mereka yang tidak kuat menanjak dengan kakinya sendiri. Baik yang terparkir, maupun yang berjalan dengan tarif Rp. 250.000,- per orang. Gerobak itu akan ditarik oleh satu atau dua orang dengan leher atau pundak mereka, lalu didorong oleh satu atau dua orang lainnya. Mereka menyebutnya taksi atau ojek. Sudah semodern hari ini, tenaga manusia masih digunakan untuk mengangkut manusia, sungguh primitif. Tour leader kami menjelaskan bahwa pemda setempat membatasi taksi atau ojek gerobak pengangkut manusia ini cukup 40 unit saja, tapi nyatanya dalam sehari bisa 200-an unit lebih yang beroperasi.

image2

Tour leader kami juga berpesan bahwa jalur menuju puncak Ijen cuma satu, jadi kita tak akan tersasar. Maka ketika kutahu aku terpisah dari rombongan, kulanjutkan saja terus berjalan. Jalanan berpasir pekat ini cukup membantu pendakian, masuknya musim penghujan membuat pasir tidak licin dan berdebu saat dilalui. Namun aku tetap menyiapkan diri dengan sepatu khusus trekking yang tampilannya sudah tak lagi cantik, tapi masih sangat bisa diandalkan, sudah ke tiga gunung dia membersamaiku.

image1

Jam 03.00 WIB, aku sudah sampai di puncak Gunung Ijen. Di sana aku melihat banyak keranjang dari anyaman bambu bertebaran. Kelak aku tahu bahwa itu adalah bakul penambang belerang yang digunakan untuk mengangkut maksimal 8 kg belerang dari dasar kawah ke puncak gunung. Para penambang itu kuat mengangkut belerang paling banyak tiga kali bolak balik. Yang membuat miris adalah, selain medannya terjal, bawa badan sendiri saja perlu perjuangan, ini menopang belerang seberat itu di bahu dengan upah Rp. 1.200,- per kilo gram!

IMG_5863

Di puncak juga banyak bapak-bapak penjaja sewa masker khusus gas menawariku. Satu di antaranya menghampiriku. Dia bilang, kalau mau ke bawah, wajib pakai masker ini, sambil menunjuk peraturan yang terpampang di plang. Aku tak minat membaca papan pengumuman itu karena juah dan gelap, tanpa bertanya lagi langsung saja kusewa satu masker karena memang aku ingin turun ke kawahnya. Tanggung pikirku, sudah sampai sini. Bapak penjaja masker juga mengingatkan bahwa masih sekitar 800 meter lagi untuk sampai ke dasar kawah, medannya curam. Namun kutetap pada pendirian awal.

IMG_5865

Benar saja, jalur turun ke kawah lebih terjal dibandingkan saat naik ke puncak. Semua orang melalui bebatuan besar-kecil berpasir untuk melihat blue fire yang fenomenal. Konon blue fire ini cuma ada dua di dunia, yaitu di Islandia dan di Kawah Ijen ini. Itu pun tak selalu bisa muncul setiap saat. Blue fire adalah gas yang keluar dari gunung belerang bercampur oksigen sehingga berbentuk laksana lidah api berwarna biru. Sekira jam 04.00 WIB aku tiba di dasar kawah, sempat menyaksikan blue fire yang menakjubkan, namun sayang, yang tertangkap kamera tak seberapa, entah karena tanganku yang gemetar saking kagumnya, atau udara yang mulai terasa menusuk dinginnya. Alhasil gambar yang kuambil selalu goyang. Tapi secara langsung, aku cukup puas menyaksikan fenomena alam yang termasyhur itu. Salah satu whist list-ku tunai sudah!

image3

Ijen nan Agung
Waktu masih menunjukkan jam 04.30 WIB, tapi sudah terang sekali, jadi aku bisa dengan jelas melihat Kawah Ijen yang berwarna hijau tosca. Di atasnya asap belerang cukup pekat, sehingga seolah aku melihat kawanan awan menyelimuti hamparan hijau nan mamukau. Aku sibuk melihat sekeliling, menyesap udara bercampur belerang dengan bantuan masker gas dan tak lupa mengambil gambar, juga beberapa video singkat. Sempat juga kutangkap momen sekelebat tatkala udara berubah warna menjadi jingga, seperti semesta tetiba senja. Sungguh magis!

IMG_5868

Tak terasa, waktu jualah yang memisahkan kemasyhukan ini. Aku teringat pesan tour leader kami untuk segera turun gunung pada jam 6 tepat. Maka pada 05.30 aku sudah harus naik lagi ke puncak supaya bisa turun tepat waktu. Tak rela rasanya. Sambil menanjak kembali, aku berkali-kali menengok ke belakang, selain untuk mengambil napas dan istirahat sedikit-sedikit, tentu saja untuk kembali melihat keagungan alam di balik tubuhku. Menengok lagi, mengambil gambar lagi, hingga ada sepasang anak muda yang menawarkan diri untuk mengambilkan gambar diriku. Sepertinya mereka sudah mengawasiku sejak tadi, dan menyadari kesendirianku: “mau difotoin, Mbak?”

IMG_5907

Sekitar jam 6 lewat sepuluh menitan, aku tiba di puncak. Mengembalikan masker sewaan dan diambilkan gambar oleh seorang muda pengumpul masker. Banyak penjaja cinderamata yang terbuat dari belerang. Aku memilih untuk melewatkannya, buatku sendiri, oleh-oleh terbaik adalah foto, video, dan juga postingan blog untuk bisa dikenang sampai kapanpun. Barang-barang fisik akan memakan tempat, sementara aku tengah belajar menjadi seorang minimalis. Setelah terik begini, semua jadi jelas terlihat, banyak turis asing yang datang ternyata, bukan cuma wisatawan lokal. Memang Ijen begitu memesona, maka pantas saja bisa menarik banyak pengunjung.

IMG_5862

Dalam perjalanan turun, aku bertemu seorang mahasiswa yang sudah dua semester kuasuh. Dia tengah menepi, duduk-duduk bersama keluarga besarnya. Saat kusapa, dia cukup kaget dan refleks mencium tanganku. Lalu si mahasiswa menggiringku jauh dari Ibunya: “jangan bilang-bilang Mama soal nilaiku ya Mbak, nanti ribet” | “HAHAHA”. Mamanya berteriak kesal “Bang, kok Mama nggak dikenalin si?!” | “Ini Mbak Nani, Ma. Dosen aku” | Sang adik menanyaiku berkali-kali: “beneran sendiri, Mbak? Ih keren baget si!” Saat turun, Gunung Meranti mentereng jelas di pandangan. Jadi meski kekuatan lutut benar-benar diuji, kubetul-betul menikmati. Jika disuruh memilih, aku lebih suka naik daripada turun. Tapi sebagaimana kehidupan yang tidak melulu naik, pasti ada turunnya.

IMG_5919

Bagiku, perjalanan adalah adiksi. Bertemu orang-orang baru, memahami bahasa di antara mereka, mencicipi makanan khas berbagai daerah, mencoba berbaur dengan budaya yang berlaku di setiap tempat berbeda merupakan seikat pengalaman yang tak kudapat dari membaca buku atau sekadar mendengar kisah. Bisa melihat keindahan dunia dengan mata kepala sendiri, merengkuh pemandangan terbaik, menapaki tanah yang mengantarku pada tujuan utama, meraih restu semesta yang terejawantah pada baiknya cuaca, adalah serangkaian keberuntungan yang tak patut diragukan.

Perjalanan juga mengajarkanku bahwa selalu ada yang lebih di sekitar kita. Sekeras apapun manusia berusaha, hasil tak melulu sesuai harapan. Namun sejatinya kita telah menang dalam berproses, karena kau akan selalu mendapatkan nilai di balik setiap kegagalan. Hingga hari ini, aku terhenyak bahwa meski berkali-kali patah, nyatanya segala sesuatu yang tak meremukkanku, justru membuatku lebih kuat. Perjalanan bak penawar luka. Untuk itu, aku akan terus berjalan, hingga raga ini menyerah pada waktu. Terima kasih telah menerimaku dengan keagunganmu, Ijen.

N

Dieng Culture Festival

Pengalaman pertamaku mengikuti Dieng Culture Festival (DCF) di tahun 2019 ini sudah gelaran ke-10 ternyata. Cukup berkesan karena perjalanan kali ini juga merupakan kali kesatu aku mengikuti open trip. Nggak tanggung-tanggung, trip ini diikuti oleh total 75 peserta! Kami terbagi dalam 2 bus besar dan 1 elf dengan 3 homestay berjumlah 20 kamar.

Berangkat dari Stasiun Pasar Senen, kami mengakhiri perjalanan dengan kereta Progo di Stasiun Purwokerto selama kurang lebih 5 jam. Setiba di Purwokerto, bus sudah menunggu dan siap mengantar kami ke Dieng dengan jarak tempuh 3 jam perjalanan. Setelah sarapan di Wonosobo, kami langsung menuju Kawah Sikidang. Kawah ini indah tapi kotor. Sangat disayangkan, aroma belerang bercampur dengan sampah yang berserakan menjadikan udara di sekitar kawah berbau busuk. Di sini tersedia sekawanan burung hantu yang dieksploitasi untuk bisa difoto bersama pengunjung dengan tarif 5 ribu rupiah per orang.

Siang hari tiba di homestay dengan hawa dingin yang mulai terasa. Dieng terkenal dengan nama ‘Negeri di Atas Awan’ karena posisinya sebagai salah satu desa tertinggi di Indonesia. Tak heran bila semakin malam udara kian menusuk tulang, menjelang pagi sudah tidak perlu ditanya lagi. Kami diwajibkan membawa sleeping bag bukan untuk tidur di lantai, tapi untuk membungkus tubuh di atas kasur karena suhu bisa mencapai minus 10 derajat celcius!

dsc02082

Di sore hari kami melihat Telaga Warna dari ketinggian, tepatnya dengan terlebih dahulu mendaki Bukit Sidengkeng. Malam harinya, Festifal Jazz Di Atas Awan sudah tersaji untuk dinikmati. Tepat jam 2 dini hari, kami sudah bersiap mendaki Gunung Prau untuk melihat mentari terbit dari puncaknya melalui jalur Candi Dhwarawati. Muncak Prau bukan pengalaman pertamaku, tapi karena ini adalah salah satu itinerary dalam rangkaian DCF, rasanya sayang sekali kalau tidak memanfaatkannya. Alih-alih melipir ke Bukit Sikunir, jadilah aku kembali mendaki Prau dengan ketinggian 2565 mdpl.

dsc02215

Setelah istirahat dari turun gunung, malamnya kami kembali menikmati Jazz di Atas Awan dengan bintang tamu Isyana Saraswati yang membawakan paling tidak 10 lagu. Di keesokan harinya, sebelum bersiap pulang kembali ke Jakarta dengan kereta jam 7 malam dari stasiun Purwokerto, kami menikmati kirab budaya dan melihat ritual pemotongan rambut gimbal di Candi Arjuna.

ced04004

N

 

 

The Old Man and the Sea

img_1016

Seorang wartawan perang menulis The Old Man and the Sea yang membawanya meraih nobel sastra pada 1954, dialah Ernest Hemingway.

Novela ini berkisah tentang seorang nelayan tua yang tak kunjung mendapat tangkapan ikan. Hemingway mampu mendeskripsikan kesabaran sang tokoh utama yang luar biasa menghadapi cemoohan orang di sekelilingnya.

Lingkungan yang sangat terbatas diceritakan dengan begitu baik. Dari sini kubelajar mengenai kedalaman sebuah karya. Hemingway tak tergoda untuk membahas hal lain dengan meluas ke mana-mana. Dan itu menjadi kekuatan novel ini.

Komunikasi intrapersonal lelaki tua di tengah lautan digambarkan secara gamblang. Relasinya dengan bocah lelaki kecil yang tak terverbalkan sungguh menyentuh. Mereka tidak diikat hubungan keluarga atau ikatan apapun jenisnya, namun benar singgah di hidup satu sama lain.

Kesabaran tokoh utama berpendar hingga ke ruang bacaku. Jika tidak dinikmati dengan kesabaran, cerita ini akan sangat menjemukan.

Konon nobel yang dianugerahkan pada buku ini bukan untuk si penulis, melainkan untuk menghargai salah satu anggota akademi nobel, Per Hallstrom yang berusia 90 tahun menjelang masa pensiunnya. Ia benar-benar mengagumi cerita ini. Tapi bagiku, The Old Man and the Sea adalah mahakarya.

N

Bromo Tengger Semeru

img_0196

Drama muncak Bromo tiga tahun lalu terbayar sudah di perjalanan domestik penghujung tahun ini. Dulu, di akhir 2015 aku ngotot ke Bromo selepas beres presentasi hasil riset di konferensi internasional yang diselenggarakan Universitas Airlangga. Cuaca kala itu samasekali tidak bersahabat. Hujan deras sepanjang hari sejak pagi buta hingga kabut tebal menyelimuti atmosfer sampai tengah hari. Sepertinya memang harus kembali lagi satu waktu, begitu pikirku saat itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tak terasa 3 tahun berselang. Undangan pernikahan seorang kolega di Malang membawaku kembali menyapa Bromo. “Ya kali udah sampe Malang terus balik Jakarta lagi tanpa main-main cantik”, begitu ujar seorang teman. Betul juga! Spontan terlintas nama Bromo. Tanpa berharap muluk-muluk dapat pemandangan mentari terbit yang indah. Kuberanikan diri menyiapkan segala kebutuhan di sela kesibukan yang sangat di luar wajar.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berkaca dari pengalaman lalu, bulan Desember memang musim hujan. Jadi cuma memasukkan Savannah ke dalam daftar tuju di Bromo. Di luar dugaan, semua kudapat justru! Dari mulai sunrise, pasir berbisik yang tidak terlalu berdebu, padang savana yang hijau membentang, hingga cuaca bersahabat yang tidak terlalu dingin, dan gunung Bromo yang berdiri megah di hadapan.

img_0133

Kami pergi bertiga dengan pesawat Air Asia. Mendarat di bandara Juanda jam 7 pagi Sabtu 15 Desember 2018. Salah satu temanku yang memang make up artist mendandaniku di pesawat! Setiba di Surabaya langsung menuju toilet untuk berganti pakaian. Dari jeans menjadi kain songket Lombok. Mengenakan aksesoris dan segera menuju Malang dengan mobil sewaan beserta supirnya.

ebfc1a9a-73b0-4280-8081-912039baf72f

Tak disangka, perjalanan menuju gereja tempat pemberkatan nikah begitu macet. Di menit-menit terakhir acara bubar kami baru tiba. Beruntung sempat bertemu kedua mempelai yang hampir pergi. Masih stress akibat bermacet ria, kami menyempatkan diri berfoto di Alun-alun Tugu Malang sepulang dari gereja.

img_0338

Setelah makan Kupang khas Malang, kami menuju hotel di kaki gunung Bromo. Hotel tempat kami menginap menyajikan pemandangan Bromo seutuhnya, namanya hotel Cemara Indah. Jadi nggak perlu bangun tengah malam demi memburu mentari terbit. Jam 02.30 dini hari kami baru bangun dan bersiap ke penanjakan dengan jeep sewaan.

img_0464

Tiba di penanjakan, udara dingin menusuk tulang. Tapi menurut penjual pop mie dan susu jahe yang menjajakan dagangannya, kami beruntung karena kali ini udara tidak terlampau dingin seperti saat musim kemarau. Dan karena semalam sebelumnya turun hujan, bisa dipastikan cuaca akan cerah dan sunrise siap muncul indah tanpa tertutup kabut.

img_0424

Kami menamai perjalanan kali ini dengan ‘Sagitarius Trip’. Kebetulan kami bertiga berzodiak sama. Sagitarius Trip perdana berjalan sukses. Mungkin akan ada Sagitarius Trip lanjutan. Mungkin juga tidak.

img_0223

N

Inferno

img_6822

Cukup lama menunggu novel ini dalam genggaman, akhirnya kutemukan di toko buku arus utama yang kini sebagian besar ruangnya dipakai untuk menjajakan alat tulis kantor.

Dalam Inferno yang berarti neraka secara harfiah, justru kurasakan keindahan melampaui kata. Bukan apa, memang sengaja sejenak ingin bernostalgia dengan kota pusat peradaban dunia yang kusyukuri betul sempat kusinggahi, dan Inferno menghangatkan, memelesak jauh ke relung terdalam hatiku.

Nothing is more creative nor destructive than a brilliant mind with a purpose

Sihir Aroma Karsa

img_6493

Terasa berbeda dengan karya-karya Dee Lestari sebelumnya, dalam Aroma Karsa, kali ini sang pencipta menguliti perihal indera penciuman manusia. Kesamaannya dengan kisah-kisah yang dirangkai Dee lainnya terlihat pada cerita yang selalu tidak mudah ditebak, petualangan yang mendebarkan dan data-data yang didapat dengan riset ketat.

Mungkin akan banyak di antara kita yang teringat pada novel “Perfume: The Story of A Murderer” karya Patrick Suskind yang sukses diangkat ke layar lebar. Tapi itu hanya terjadi di awal. Selebihnya, kita akan masuk pada cerita yang samasekali lain. Rasanya belum pernah ada, atau luput dari perhatian saya, entah.

Saya terkesima pada cara Jati Wesi sang tokoh utama mencatat apa yang tengah dibauinya, juga bagaimana dia menuliskan jenis aroma yang sudah berhasil ia racik, puitis habis! Di tengah segala keterbatasan yang ada, Jati yang tidak terbekali pendidikan tinggi mampu menjadi pribadi yang baik. Dia terlahir sebagai makhluk dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Penasaran adalah kelemahannya. Ia banyak belajar dan tekun sekali. Mengoleksi beragam kamus dan tesaurus untuk memuaskan hasrat ingin tahunya pada istilah-istilah aroma di dunia.

Karakter lain yang dibangun pun berperan menggenapi cerita sesuai porsinya. Tokoh Arya Jayadi yang diam-diam mencuri perhatian, juga Nurdin Suroso yang memuakkan. Dari Raras Prayagung yang ambisius dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, kita belajar bahwa ketamakan manusia hanya akan membunuhnya perlahan.

Cerita percintaan Jati dan Tanaya Suma disajikan sedemikian indah, adiluhung nan menghanyutkan. Getarannya sampai ke dalam ruang imajinasi. Dee piawai sekali menuliskan adegan ranjang dengan begitu halus dan panas sekaligus.

Perlu waktu khusus untuk menjelajah ruang Aroma Karsa. Sayang sekali jika dibaca sambil lalu. Memang ada dilema, di mana kita dibuat begitu penasaran pada cerita selanjutnya dan tak ingin lepas dari jerat kisahnya, namun di sisi berbeda, kita juga tak rela lekas-lekas berpisah pada semestanya. Aroma Karsa begitu magis, menyihir pembaca hingga tak jelas lagi mana batas antara fakta dan fiksi. Dee meramu data hasil riset dan khayalannya dengan mahir. Kita menyaksikan leburnya logika dan mimpi, terjalinnya realitas dan imajinasi, dan dualitas itu terus menerus berkelindan.

Layaknya kehidupan bekerja, Aroma Karsa mengandung haru, bahagia, patah hati, gelak tawa, pilu, takjub, dan pembelajaran berharga dari mula hingga ujung cerita. Aroma Karsa adalah sebuah paket lengkap. Pembaca tidak dibuai dengan kisah berakhir bahagia layaknya opera sabun.

Karya setebal 724 halaman ini sungguh berbahaya. Membuka cakrawala baru dalam dunia penciuman manusia sekaligus menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia. Dee konsisten menggunakan istilah-istilah dengan bahasa Indonesia. Terciptanya Aroma Karsa ke dalam ruang baca menjadikan kita semakin kaya, terhibur, dan teredukasi pada saat yang sama.

N

Noura

“Bu, kenapa anak kecil harus nurut apa kata orangtuanya?”

“Karena orangtua lebih dulu tahu baik dan buruk ketimbang anak kecil.”

“Lalu kenapa Ibu nggak pernah melarang aku melakukan ini itu seperti orangtua temanku?”

“Karena Ibu pengin kamu memuaskan semua rasa ingin tahumu. Kelak kamu bisa memilah sendiri mana yang mau kamu tekuni dan apa saja yang perlu kamu tinggalkan.”

“Ibu nggak takut aku salah jalan?”

“Salah jalan itu perlu, Nak. Supaya kamu tahu sakitnya bersalah dan nggak akan mengulanginya lagi.”

“Aku boleh baca semua buku-buku Ibu di perpustakaan?”

“Itu bukan buku-buku Ibu, tapi buku-buku kita. Tentu saja kamu boleh membaca semuanya, sesukamu.”

img_5565

N

River

Jam 19 malam itu, Nina berkemas, merapikan meja kerja seperti biasa ia lakukan sesaat hendak meninggalkan kantor. Dia membayangkan mandi air hangat, lalu rihat di kamarnya sambil melanjutkan novel yang belum rampung ia baca.

“Sudah pulang?” Begitu bunyi pesan singkat yang ia terima lewat WA. Dari River.

“Belum”, balasnya.

“Nyebrang saja”

“Ke mana?”

“Cempaka”

Dia manut, menyeberang jalan raya, lalu menghampiri mobil kijang yang sudah menunggunya di tepi jalan.

“Tadi kenapa nggak bilang kalau mau bareng?” Selorohnya pada River sambil memasang sabuk pengaman. Yang ditanya diam saja, lurus menatap jalan di depannya, tanpa ekspresi. Nina sudah terbiasa dengan River yang tidak suka basa basi. Ia tahu, kalau River ingin bersamanya kapanpun, maka lelaki itu akan bersegera memintanya tanpa butuh alasan.

“Sudah makan?” Begitu tetiba River bertanya sambil tetap konsentrasi di balik kemudi.

“Belum tiga kali hari ini” jawab Nina jujur.

“Mau makan apa?”

“Makan nasi”

Kemudian tangan kanan River memijat jidatnya sendiri, “nasi.. terlalu abstrak, spesifiknya mau nasi apa?”

“Seafood enak”

Nina sudah paham dengan River yang seperti robot. Bicara dengan River harus jelas dan terang benderang. Jika pengin makan, nggak cukup dengan bilang “mau makan nasi”. Harus sejelas “mau makan nasi padang/nasi bebek/nasi uduk, dll.”

Nina sudah memilih River sejak hatinya tergetar. Saat benih-benih kasih sayang timbul. Maka sekaku apapun River, Nina senantiasa berterima. Sudah tahun ketiga Nina dan River saling mengenal, tapi malu-malu itu tak berhenti muncul di antara mereka. Tiap mata mereka beradu. Juga tatkala aroma tubuh yang satu tertangkap oleh yang lain. Dan derap langkah kaki River saat mendekat deksnya sekadar memerhatikan apa yang tengah Nina kerjakan, atau bertanya “ada yang bisa dimakan?”

img_5333

N

Main ke Istanbul 2

img_5515

Istanbul tidak termasuk dalam daftar kota impian yang ingin saya kunjungi semasa hidup. Tapi setelah main ke sini, saya baru sadar bahwa kota ini begitu indah hingga sulit melupakan pesonanya. Selepas pulang ke tanah air, saya seolah menjadi pribadi yang lebih kaya secara emosional dan intelektual. Menyambangi kota terbesar di benua Eropa ini membuat saya sertamerta belajar banyak sekali hal.

img_5542

Mulai dari memahami budayanya, beradaptasi dengan makanan dan cuacanya, hingga menyesap suasananya yang mungkin tidak akan saya dapatkan di kota-kota lain di belahan dunia manapun. Orang-orang Turki cukup menarik perhatian saya. Betapa tidak, lelaki dan perempuan Turki memang terkenal rupawan, apalagi anak-anak kecilnya yang lucu-lucu menggemaskan. Perpaduan ras Mongoloid dan Kaukasoid terejawantah sempurna dalam bangsa Turki.

img_5536

Istanbul yang dalam sejarah juga dikenal sebagai Konstantinopel dan Bizantium, adalah kota terpadat di Turki yang menjadi pusat perekonomian, budaya, dan sejarah negara tersebut.

img_5537

Istanbul merupakan kota lintas benua di Eurasia yang membentang melintasi Selat Bosporus di antara Laut Marmara dan Laut Hitam. Pusat perdagangan dan sejarahnya terletak di sisi Eropa, sementara sekitar sepertiga penduduknya tinggal di sisi Asia.

img_5539

Kota ini merupakan pusat pemerintahan dari Munisipalitas Metropolitan Istanbul (berbatasan dengan provinsi Istanbul), keduanya memiliki keseluruhan populasi sekitar 14 juta penduduk. Istanbul merupakan salah satu kota yang paling padat penduduknya di dunia, menempati peringkat enam terbesar di dunia menurut populasi dalam batas kota.

Grand Bazaar

img_5896

Grand Bazaar

The Grand Bazaar (bahasa Turki: Kapaliçarsi, yang berarti ‘Covered Market’, juga Büyük Çarsi, yang berarti ‘Grand Market’) di Istanbul adalah salah satu pasar tertutup terbesar dan terlama di dunia, dengan 61 jalan yang tertutup dan lebih dari 4.000 toko yang menarik antara 250.000 dan 400.000 pengunjung setiap hari. Pada tahun 2014, tempat ini menduduki urutan nomor 1 di antara tempat-tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di dunia dengan 91.250.000 pengunjung per tahun. Grand Bazaar di Istanbul sering dianggap sebagai salah satu pusat perbelanjaan pertama di dunia.

img_5796

Di sini saya mendapat satu taplak meja dari pengunjung dan satu handuk gratis dari pedagang karena membantu satu keluarga menerjemahkan bahasa Inggris saat berbelanja di salah satu toko. Orang-orang Turki tidak bisa bicara dalam bahasa Inggris. Para pedagang pun belum tentu mampu berbahasa Inggris dengan baik. Selusin gantungan kunci, pashmina, dan beberapa dompet kecil sebagai oleh-oleh saya bawa pulang setelah berhasil menawar harga yang diajukan di awal oleh pedagang. Belanja di Grand Bazaar mirip dengan berbelanja di Tanah Abang Jakarta, kita harus pintar menawar agar dapat harga miring, bahkan mendapat bonus. Saya sarankan agar menawar langsung 50% dari harga yang diberikan. Drama pergi meninggalkan toko juga perlu dilakukan, karena sesaat kemudian mereka akan memanggil kita lagi jika memang harga yang kita tawar masih masuk dalam hitungan bisnis mereka.

Bosphorus Cruise

img_5928

Di Istanbul Turki kita bisa menikmati indahnya Asia sekaligus Eropa. Benua Eropa dan Asia hanya dibatasi oleh sebuah Selat, Selat Bosphorus namanya. Bosphoruslah yang memisahkan Turki bagian Eropa dengan Turki bagian Asia. Selat ini juga menghubungkan antara Laut Marmara dengan Laut Hitam. Laut Marmara ini terhubung dengan Laut Aegea, yang dalam cerita Homer merupakan jalur yang digunakan Achilles menyerang Troy di Asia kecil, dan lebih ke selatan dengan Laut Mediterania.

img_5960
Jembatan Bosphorus

Sejak zaman kejayaan Yunani sebelum era Bizantium dan Usmani, Bosphorus Istanbul Turki telah menjadi bandar rempah yang ramai. Selat ini memiliki panjang 30 km, lebar maksimum hanya 3.700 m dan minimum 750 m. Kedalaman selat ini dari 36 meter sampai 124 meter. Di kanan kiri selat ini kita bisa merasakan sensasi dan keindahan kehidupan Istanbul.

img_5949

Di Bosphorus ini kita bisa menikmati keindahan jembatan Bosphorus, penghubung antara dua benua, yaitu Jembatan Fatih Sultan Mehmet yang menghubungkan benua Asia dan benua Eropa.

img_5634
Jembatan Fatih Sultan Mehmet

Jembatan Bosphorus ini diselesaikan pada tahun 1988, saat itu jembatan tersebut menjadi jembatan gantung terpanjang kelima di dunia. Sekarang jembatan tersebut berada pada urutan ke-19. Jembatan tersebut mengambil nama dari Sultan Utsmaniyah abad ke-15 (Mehmed Sang Penakluk), yang menaklukkan ibukota Bizantium, Konstantinopel pada tahun 1453.

img_5920
Bosphorus Cruise

Seorang teman Turkish menggodaku untuk kembali ke Turki di musim semi. Katanya, bunga-bunga akan bermekaran indah sekali. Terlebih, kita bisa melihat lautan bunga tulip. Syahdan, tulip yang terkenal di Belanda itu berasal dari Turki.

Ini adalah cerita hari terakhirku di Istanbul. Saya siap pulang dengan bahagia membawa segudang kisah dan pengalaman tak terlupakan. Menuliskannya di sini juga merupakan upayaku untuk mengenang perjalanan ini. Dan saya menyadari satu hal, bahwa semakin jauh pergi, kian cinta kita pada tanah air dan kampung halaman.

N